Apa Itu Skip Tracing, dan Di Mana Batasnya
Ketika semua nomor debitur mati, tim mulai mencari jalur lain. Sebagian cara itu sah dan efektif, sebagian lagi membuat perusahaan Anda menanggung risiko yang tidak sepadan.
Skip tracing adalah upaya menemukan kembali debitur yang sudah tidak bisa dihubungi lewat data yang tercatat. Istilahnya dipinjam dari kata skip, orang yang pergi tanpa meninggalkan alamat.
Di lapangan, ini bagian pekerjaan yang paling jarang punya aturan tertulis, padahal paling sering menimbulkan masalah. Bukan karena orang berniat buruk, tapi karena batasnya tidak pernah dibicarakan sampai ada yang terlanjur dilewati.
Sebagian besar kasus selesai di data yang sudah Anda punya
Sebelum bicara soal mencari ke luar, hampir selalu ada yang belum digali di dalam.
Nomor yang diisi saat pengajuan biasanya lebih dari satu. Ada nomor rumah, nomor kantor, dan nomor kontak darurat yang sering tidak pernah dicoba karena antrean cuma memakai nomor utama. Ada juga data dari transaksi yang lebih baru: nomor yang dipakai saat pembayaran terakhir, atau alamat pengiriman yang berbeda dari alamat akad.
Sebelum menyimpulkan seseorang hilang, pastikan semua yang sudah Anda miliki benar-benar sudah dicoba, di jam yang berbeda, dan tercatat hasilnya. Cukup sering, yang disebut hilang sebenarnya cuma tidak pernah ditelepon di jam yang tepat.
Menghubungi orang lain adalah keputusan kebijakan, bukan teknik
Ini bagian yang paling perlu ketegasan.
Menelepon kontak darurat, kerabat, atau tempat kerja bukan sekadar pilihan taktis. Ada aturan perlindungan konsumen dan data pribadi yang mengatur seberapa jauh Anda boleh melangkah, dan yang lebih praktis, ada batas yang jelas antara memverifikasi keberadaan seseorang dan mengumumkan utangnya ke orang lain.
Menanyakan apakah seseorang bisa dihubungi di nomor itu adalah satu hal. Menjelaskan berapa tunggakannya kepada atasan atau tetangganya adalah hal yang sama sekali berbeda, dan itu yang biasanya berakhir jadi keluhan, viral, atau pemeriksaan.
Karena itu keputusannya harus dibuat di tingkat kebijakan, ditulis, lalu dipasang di sistem sebagai aturan, bukan diserahkan ke penilaian tiap agen saat sedang dikejar target.
Yang tidak sepadan dengan risikonya
Ada praktik yang beredar di industri dan sebaiknya ditolak sejak awal, berapa pun efektifnya.
Membeli data kontak dari sumber yang tidak jelas asal-usulnya membuat perusahaan Anda memegang data pribadi tanpa dasar yang bisa dipertanggungjawabkan. Menyamar sebagai pihak lain untuk memancing informasi merusak posisi Anda kalau percakapan itu direkam pihak lain. Menghubungi orang di jam istirahat atau berulang kali dalam sehari akan lebih cepat menghasilkan aduan daripada pembayaran.
Ukuran yang paling sederhana: kalau cara itu tidak nyaman dijelaskan apa adanya kepada pemeriksa atau kepada nasabah yang bertanya, jangan dipakai.
Yang sebenarnya menekan angka debitur hilang
Ini bagian yang membosankan dan paling berhasil.
Sebagian besar kontak yang mati bukan karena orangnya kabur, tapi karena datanya diambil sekali saat akad lalu tidak pernah diperbarui. Memperbarui nomor pada setiap interaksi yang berhasil, termasuk saat pembayaran normal, jauh lebih murah daripada mencarinya kembali setahun kemudian.
Menandai nomor yang gagal total berkali-kali dan mengeluarkannya dari antrean utama juga membantu, karena tim berhenti membuang kapasitas ke nomor yang tidak akan pernah menjawab.
Mencari orang yang hilang selalu lebih mahal daripada tidak kehilangan mereka.
Di Koda, nomor pihak ketiga bisa dimunculkan sebagai nomor yang boleh ditelepon atau ditutup sama sekali, tergantung kebijakan yang Anda tetapkan, dan tiap percobaan panggilan tersimpan dengan hasilnya sehingga terlihat mana yang benar-benar sudah dicoba.
Bicarakan aturan kontaknya sebelum sistemnya dipasang.
Nomor pihak ketiga bisa dimunculkan sebagai nomor yang boleh ditelepon, bisa juga ditutup sama sekali. Itu keputusan kebijakan Anda, dan sebaiknya diputuskan di awal.
Jadwalkan Demo